Monday, May 10, 2010

Sajak-bertemakan GURU

Guru oh Guru

Berburu ke padang datar,
Dapat rusa belang kaki;
Berguru kepalang ajar,
Ibarat bunga kembang tak jadi.

Dialah pemberi paling setia
Tiap akar ilmu miliknya
Pelita dan lampu segala
Untuk manusia sebelum menjadi dewasa.

Dialah ibu dialah bapa juga sahabat
Alur kesetlaan mengalirkan nasihat
Pemimpin yang ditauliahkan segala umat
Seribu tahun katanya menjadi hikmat.

Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta
Jika hari ini seorang Presiden sebuah negara
Jika hari ini seorang ulama yang mulia
Jika hari ini seorang peguam menang bicara
Jika hari ini seorang penulis terkemuka
Jika hari ini siapa saja menjadi dewasa;
Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.

Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya
Di sebuah sekolah mewah di lbu Kota
Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu
Dia adalah guru mewakill seribu buku;
Semakin terpencil duduknya di ceruk desa
Semakin bererti tugasnya kepada negara.

Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, guruku
Budi yang diapungkan di dulang ilmu
Panggilan keramat "cikgu" kekal terpahat
Menjadi kenangan ke akhir hayat.

Usman Awang
1979


Dia Seorang Guru

Dia seorang guru tua sebuah sekolab
terdidik dalam negeri tanpa berjela ijazah
penunggu setia sekolah desa bukan cuma ganiaran upah
tidak juga mengharap kemilau gelar dan anugerah
sekadar kerelaannya menggenggam suatu amanah

yang mengangkat harga diri dan maruah
dengan berbekalkan keyakinan dan hikmah
dengan kelkhlasan had dan pasrah
dengan tidak mengenal jemu dan penat-lelah
yang diperkirakan kepuasan diri membangun ummah
berlandas paksi yang jelas dalam tuju-arah.
Dia seorang guru pengganti ayah ibu
dia seorang guru pembentuk generasi baru
dia seorang guru pembina insan sepadu
dia seorang guru pewaris tamadun ilmu
yang terus hidup sepanjang waktu
diimbau berbunyi dilihat bertemu.

Ismail Haji Adnan
1989


Guruku

Seperti lilin
sewaktu waktu akan cair
gugur lalu membeku
sepi pun datang menutup pandang
tinggallah waktu
mengakhiri seJarah panjangnya.

Seperti engkau
sewaktu waktu penyuluh hidupku
betapa dalam kegelapan maya
engkau perkenalkan daku dengannya
suria dan bintang cakerawala
sehingga seluruh jagatraya ini
tiba-tiba menjadi milikku.

Kehadiranmu adalah suatu fitrah
lepas itu, engkau kutinggalkan
kukira engkau kesepian kini
mengakhiri sisa-sisa hidupmu
tanpa belaian kasih
ratusan anak-anakmu
yang telah engkau berikan obor.

Dan pagi ini kudakap wajahmu dalam kenangan
seorang anak yang pernah engkau lukai
kini pencintamu paling setia
sehingga ke akhir hayat.

Zam Ismail
Seremban
1985


Jasamu Dikenang

Segala bakti yang engkau curahkan
mengajar mendidik anak bangsa
segala jasa yang engkau taburkan
menjadi kenangan tak akan kami lupakan.

Engkau laksana pelita di malam gelita
memancarkan sinar sepenuh rela
jiwamu tabah hatimu cekal
kasihmu sud semangatmu berkobar
yang tak pernah mengenal erti putus asa
yang tak pernah meminta puji dan puja.

Jasamu tak akan luput dalam ingatan kami
sepanjang hayat mekar di sudut had
tiap sepatah katamu mengisi erti
tiap madahmu mengandungi hikmat
pembentuk peribadi penegak kebenaran
pengatur hidup petunjuk kebahagiaan.

Hanya kata-kata ini yang dapat kami lafazkan
terkumpul dari seribu hati menjadi satu
menadah tangan dengan doa restu
kepada Tuhan yang menjanjikan pembalasan
kepadamu guru-guru yang berjiwa mulia
pembimbing petunjuk ke arah maju jaya.

Jujur dan ikhlas engkau berbakti
di kota dan desa atau di huj'ung negeri
cekal dan tabah menempuh dugaan
hidupmu bagalkan pelita di tengah malam
membakar diri menerangi yang kelam
jasamu akan karra kenang sepanjang zaman.

Ahmad Sarju
Klang
1988


Pelita Sebuah

Dengan sinar cahaya
di malam gelita
kelip-kelip warnanya
menerangi kamar alam
sekian lama malam
merantai kegelapan
akhlrnya kukenal siang
berwajah suram
alangkah indahnya cluma
kuhhat di dalam terang.

Pelita sebuah
membawa cahaya ilmu
hutan menjadi terang
gua malam
bercahaya api
lautan menjadi tenang
gelombang clan karang
dapat direnang
kujelajahl malam
tanpa bimbang.

Ami Masra
UPM Serdang
1988

No comments:

Post a Comment